Rabu, 13 Agustus 2014

Makalah Cacing Pada Ayam



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perkembangan dunia perunggasan di negara kita, memang sudah banyak menciptakan peluang bisnis. Hal ini disebabkan karena bisnis perunggasan bisa dijangkau masyarakat kalangan bawah, dapat dipelihara oleh masyarakat atau peternak dengan lahan yang cukup kecil, kapital “demand power” yang cukup kuat, menyebabkan ternak ini lebih cepat perkembangannya dibandingkan dengan perkembangan ternak lain. Demikian Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia menyatakan,. Namun, menurut mereka, para peternak tidak sedikit mengalami hambatan dan rintangan selain harga pakan yang terus naik, obat-obatan yang cukup mahal juga adanya berbagai macam penyakit yang sering menyerang ternak. Salah satu penyakit pada ayam yang sering ditemui adalah askaridiasis. Penyakit ini disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides yang menyerang usus halus bagian tengah. Cacing ini menyebabkan keradangan dibagian usus yang disebut hemorrhagic. Larva cacing ini berukuran sekitar 7 mm dan dapat ditemukan diselaput lendir usus. Parasit ini juga dapat ditemukan dibagian albumen dari telur ayam yang terinfeksi.



1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu :
1.      Bagaimanakah potensi ayam untuk terkena parasit ?
2.      Apa sajakah parasit yang dapat menyerang ayam dan bagaimana penanggulanganya?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukan potensi ayam untuk terkena parasit dan parasit apa saja yang dapat menyerang ayam dan bagaimana cara penanggulanganya.

1.4  Hipotesis
Masalah utama yang dialami peternak ayam adalah parasit, diantaranya adalah cacing.
Cacing adalah parasit yang paling sering menyerang ayam, yang bisa membuat ayam kurus bahkan mengakibatkan kematian pada ayam yang terserang.




BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Jenis Cacing
Nemathelminthes umumnya cacing yg hidupnya parasit dan merugikan manusia, pada umumnya merugikan, sebab parasit pada manusia maupun hewan, kecuali Planaria. Planaria dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan. Nemathelminthes ( cacing gilig), contohnya Ascaris lumbricoides. Sering disebut cacing perut atau cacing usus atau cacing gelang. Parasit pada usus halus manusia, hewan yang memiliki tubuh simetris bilateral dengan saluran pencernaan yang baik namun tidak ada sistem peredaran darah. Contoh cacing gilik : cacing askaris, cacing akarm cacing tambang, cacing filaria. Nemathelminthes hampir seluruhnya mempunyai akibat yg buruk jika memasuki tubuh mahluk hidup lainnya. Contoh cacing Ascaris lumbricoides merupakan cacing perut yg menghisap sari makanan dari manusia. Jadi selain pengurai annelida seringkali malah menjadi parasit pada tubuh manusia atau hewan

2.2  Ciri-Ciri
Nemathelminthes berasal dari kata Nemathos = benang; Helminthes = cacing. Jadi pengertian Nemathelminthes adalah cacing yang berbentuk benang atau gilig.
1.      Tubuh berbentuk gilig atau seperti batang dan tidak bersegmen, mempunyai selom semu (pseudoselomata), tripoblastik. Permukaan tubuh dilapisi kutikula sehingga tampak mengkilat.
2.      Saluran pencernaan sempurna mulai dari mulut sampai anus. Beberapa jenis diantaranya memiliki kait.
3.      Sistem respirasi melalui permukaan tubuh secara difusi.
4.      Saluran peredaran darah tidak ada, tetapi cacing ini mempunyai cairan yang fungsinya menyerupai darah.
5.      Sistem reproduksi :
Alat kelamin terpisah, cacing betina lebih besar dari cacing jantan dan yang jantan mempunyai ujung berkait (gambar 1). Gonad berhubungan dengan saluran alat kelamin, dan telur dilapisi oleh kulit yang terbuat dari kitin. Hewan ini tidak berkembangbiak secara aseksual
6.      Habitat
Sebagian besar hewan ini hidup bebas dalam air dan tanah, tetapi ada juga
sebagai parasit dalam tanah, yakni merusak tanaman atau dalam saluran
pencernaan





BAB III
PROSES PENELITIAN

3.1  Alat dan Bahan

1.      Alat :
1)      Pisau
2)      Ember/baskom
3)      Sarung tangan karet/plastik
4)      Masker
5)      Lup/kaca pembesar (karena tidak ada mikroskop)
2.      Bahan :
1)      Ayam
2)      Air secukupnya

3.2    Metoda Penelitian

Penelitian ini menggunakan metoda :
1.      Melakukan pembuktian langsung dengan cara meneliti ayam secara langsung.
2.      Meneliti hasil penelitian/percobaan.
3.      Mengmpulkan data dari sumber lain seperti media informatika untuk menambah pengetahuan dan mendukung hasil penelitian

3.3  Proses Penelitian
Proses penelitian adalah dengan terjun langsung membuktikan diri untuk meneliti parasit pada ayam :

1.      Potong/sembelih ayam terlebih dahulu, lalu bersihkan bulu ayam dengan air panas.
2.      Belah bagian perut ayam lalu ambil bagian yang akan diteliti seperti kepala, daging dan usus ayam
3.      Bersihkan dengan air
4.      Buka bagian-bagian kepal, daging dan usus ayam itu kemudian mulailah menelitinya dengan LUP.
5.      Catat hasil penelitian
6.      Simpulkan
7.      Setelah selesai bersihkan tubuh kita dengan mandi agar parasit pada ayam tidak menular ke tubuh kita
 


BAB IV
ANALISIS PENELITIAN

4.1  Hasil Penelitian
Setelah dilakukan penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Ternyata pada usus ayam banyak sekali terdapat parasit khususnya cacing.
2.      Di bagian lain seperti kepala ayam juga ditemukan khususnya pada mata ayam.
3.      Cacing itu sejenis cacing kawat dan cacing Pita yang lain saya tidak tahu jenis apa cacing itu.
4.      Terdapat juga parasit seperti kutil pada ayam.

4.2  . Pencegahan Parasit pada Ayam
·         Pemberian obat cacing
Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing. Seperti cacing nematoda dengan siklus hidup kurang lebih satu setengah bulan, maka diberikan pengobatan dua bulan sekali, begitu juga dengan cestoda. Pemberian obat cacing pada ayam layer sebaiknya diberikan pada umur 8 minggu dan diulang sebelum ayam naik ke kandang baterai. Sedangkan pada ayam broiler jarang diberikan anthelmintika karena masa hidupnya pendek.
·         Melakukan sanitasi
         Kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong rumput disekitar area peternakan.
·         Mengurangi kepadatan kandang
Karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi infestasi cacing.
·         Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.
·         Mencegah kandang becek, seperti menjaga litter tetap kering, tidak menggumpal dan tidak lembab.
·         Peternakan dikelola dengan baik seperti mengatur jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan dilakukan sistem “all in all out”.




BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
Pada praktikum ditemukan beberapa parasit pada ayam terutama ditemukan Ascaris lumbricoides yang berukuran bermacam – macam anatra 5 cm – 30 cm. cacing ini banyak ditemukan di dalam tubuh ayam terutama di bagian usus dari ayam. Cacing ini sepanjang pengamatan ditemukan dalam berbagai ukuran baik jantan maupun betina, selain itu banyak juga ditemukan masih dalam bentuk terlur atau lava dalam tubuh ayam terutama di bagian usus dari ayam. Infeksi cacing ini terutama menyerang ayam usia 3-4 bulan. Spesimen dari parasit ini kadang-kadang ditemukan dalam telur. Cacing ini berpindah tempat dari usus ke oviduct dan dapat masuk ke dalam telur pada saat pembentukan telur tersebut. Cacing dewasa mudah dilihat dengan mata telanjang karena panjang cacing dewasa mencapai ½ hingga 3 inchi. Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing
1.      Parasit cacing banyak ditemukan di dalam tubuh dari ayam terutama di bagian usus
2.      Cacing yang banyak ditemuan, terutama adalah cacing pita, cacing kawat, cacing tambang, Ascaris lumbricoides dan sebagainya.
3.      Ayam yang cacingan memiliki ciri-ciri : tubuh ayam menjadi kurus, nafsu makan berkurang, sayap kusam dan terkulai, kotoran encer, berlendir berwarna keputihan dan kadang berdarah, pertumbuhan lamban .

5.2  Saran
Sebaiknya bagi yang memelihara ayam  dirumah agar diperhatikan tips-tips berikut :
1.      Bersihkan kandang secara rutin agar pertumbuhan bakteri/parasit berkurang
2.      Berilah vaksinasi pada ayam dengan dicampurkan ke dalam minuman ayam
3.      Pemberian obat cacing
4.      Bersihkan diri anda setelah berkontak langsung dengan ayam, karena parasit, bakteri dan virus bisa menular ke tubuh kita.
5.      Masaklah daging ayam benar-benar matang, karena cacing tertentu masih bisa hidup walau daging itu sudah dimasak. Akibatnya larva cacing masuk ke tubuh kita saat kita mengkonsumsinya.;

DAFTAR PUSTAKA:

Anonymous. 2007. Nemanthelminthes. (Online). http://free.vlsm.org/v12. Diakses Tanggal 30 November 2008.
Anonymos. 2007. Kegitan Belajar IV: Nemanthelminthes. (Online).http://www.e-dukasi.net . Diakses Tanggal 30 November 2008.
Anonymous. 2005. Cacingan dan Pengobatannya. (Online). http://infovet.blogspot.com, Diakes Tanggal 30 November 2008.

Guns Uchiha






Sabtu, 14 September 2013

SISTEM PENCERNAAN HEWAN RUMINANSIA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ruminansia merupakan binatang berkuku genap subordo dari ordo Artiodactyla disebut juga mammalia berkuku. Nama ruminan berasal dari bahasa Latin "ruminare" yang artinya mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hewan memamah biak. Hewan ruminansia umumnya herbivora atau pemakan tanaman, sehingga sebagian besar makanannya adalah selulose, hemiselulose dan bahkan lignin yang semuanya dikategorikan sebagai serat kasar. Hewan ini disebut juga hewan berlambung jamak atau polygastric animal, karena lambungnya terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Rumen merupakan bagian terbesar dan terpenting dalam mencerna serat kasar, sehingga karena pentingnya rumen dalam proses pencernaan ruminansia, maka timbul pelajaran khusus yang disebut ruminologi.

Rumen atau perut besar merupakan bagian terbesar dari susunan lambung ruminansia. Namun rumen tidak dapat dipisahkan dari ketiga bagian lainnya, oleh karena itu akan dibahas juga mengenai retikulum, omasum, dan abomasum. Di samping metabolisme dalam tubuh, pada ruminansia terjadi proses metabolisme dalam rumen oleh mikroorganisme melalui proses fermentasi pakan. Fermentasi sendiri berasal dari bahasa Latin fermentatio = dekomposisi enzimatik.

1.2. Tujuan Penulisan

Selain untuk memenuhi dan melengkapi salah satu tugas mata pelajaran Biologi, pembuatan makalah ini juga mempunyai tujuan sebagai berikut:
a.       Memberikan gambaran mengenai proses pencernaan  dalam rumenansia.
b.      Memahami fungsi dan bagian berbagai sistem pencernaan.
c.       Mengenal Anatomi Sistem Ternak Ruminansia

1.3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup makalah ini hanya tentang pengenalan sistem dan proses pencernaan ternak ruminansia  dan bagiannya serta fungsi masing-masing dari sistem tersebut.





BAB II
PEMBAHASAN SISTEM PENCERNAAN HEWAN RUMINANSIA



2.1. Proses Pencernaan pada Ruminansia

Untuk setiap aktivitas fisiologik/faali dalam tubuh mahluk hidup, khususnya manusia dan hewan piara, misalnya aktivitas organ-organ tubuh, proses pertumbuhan, pemeliharaan kondisi tubuh, proses kerja, proses produksi dan reproduksi, memerlukan sejumlah energi dan zat makanan pembangun atau zat pemelihara tubuh. Energi dan zat makanan tersebut hanya diperoleh dari pangan/pakan atau bahan makanan yang dikonsumsi yang dirombak dan diserap dalam saluran pencernaan, kemudian dimetaboilsme dalam sel genap seperti sapi, kerbau, domba, kambing, rusa, dan kijang yang merupakan subordo dari ordo Artiodactyla. Nama ruminansia berasal dari bahasa Latin “ruminare” yang artinya mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hewan memamah biak. Ruminansia merupakan ternak masa depan yang mampu meningkatkan kesejahteraan manusia, karena hanya hewan ini yang mampu dengan baik memanfaatkan bahan yang tidak dapat dimanfaatkan oleh manusia. Hijauan seperti rumput atau limbah pertanian yang tidak dimakan oleh manusia dapat dikonversikan ke dalam makanan bernilai gizi tinggi yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Ternak non ruminansia selain kuda dan kelinci, pada suatu saat akan merupakan saingan manusia, karena pakan ternak tersebut juga merupakan makanan manusia.

Pada hewan berlambung tunggal, kegiatan pencernaan ini sangat bergantung kepada aktivitas enzim yang dihasilkan oleh kelenjar eksokrin yang terdapat dalam tubuh hewan tersebut. Pada beberapa hewan berlambung tunggal tertentu yang termasuk herbivora seperti kuda dan kelinci, dalam batas tertentu dapat memanfaatkan selulosa karena dibantu oleh mikroorganisme yang terdapat dalam sekum. Pada ruminansia atau hewan berlambung jamak yang umumnya pemakan tumbuh-tumbuhan, di samping enzim yang dihasilkan oleh kelenjar eksokrin dan sel-sel khusus, juga terdapat sejumlah enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang terdapat dalam rumen, sehingga kelompok hewan ini mampu memanfaatkan selulosa dengan baik. Sebagian besar makanannya terdiri atas serat kasar dan saluran pencernaannya panjang dan lebih kompleks. Pada hewan ini, serat kasar dirombak secara intensif melalui proses fermentasi di dalam rumen oleh mikroorganisme rumen.
Umumnya pangan/pakan atau campuran berbagai pangan/pakan yang disebut ransum yang dikonsumsi tidak dapat langsung diserap oleh usus. Makanan tersebut harus diolah dahulu dalam alat pencernaan atau disebut proses pencernaan. Proses pencernaan makanan ialah proses mekanis/fisik dan biokimiawi yang bertujuan mengolah bahan makanan menjadi zat makanan atau dikenal zat gizi yang mudah diserap oleh tubuh, bila zat makanan tersebut diperlukan. Proses fisik dan biokimiawi bahan makanan tersebut hanya akan berjalan normal dan efisien bila alat-alat pencernaan dan alat asesorinya dalam keadaan normal dan mampu mengeluarkan enzim-enzim yang mempengaruhi proses pencernaan tersebut. Alat pencernaan ini merupakan sistem organ yang terdiri atas lambung (gastrium) dan usus (intestinum) sehingga dikenal dengan istilah sistem gastrointestinal dan alat pembantunya atau asesori seperti gigi, lidah, pankreas, dan hati.

Alat pencernaan (Apparatus digestorius) terdiri atas saluran pencernaan (Tractus alimentarius) dan organ pembantu (Organa accesoria). Dilihat dari anatomi alat pencernaan, terdapat tiga kelompok hewan yakni kelompok hewan berlambung jamak (polygastric animals) antara lain sapi, kerbau, rusa, domba, kambing dan kijang, kelompok hewan berlambung tunggal (monogastric animals) antara lain manusia, anjing, kucing, babi, kuda dan kelinci, dan hewan yang berlambung jamak semu (pseudo polygastric animals) antara lain ayam, bebek, angsa, dan burung. Hewan yang berlambung jamak dikelompokkan sebagai ruminansia dan yang berlambung tunggal dikelompokkan ke dalam non ruminansia. Unggas yang merupakan hewan berlambung jamak semu (pseudo ruminants) dikelompokkan ke dalam non-ruminansia.

Agar supaya memperoleh gambaran yang jelas bagaimana dan di mana proses pencernaan baik kimiawi maupun mekanis dan bagaimana ternak memanfaatkan bahan makanan berserat kasar tinggi, perlu diketahui dahulu sistem pencernaan serta fungsi bagian-bagian dari alat pencernaan tersebut, khususnya rumen, retikulum, omasum dan abomasum.

2.2.Anatomi dan Fungsi  Saluran Pencernaan Ruminansia

Saluran Pencernaan:
-          Mulut
-          Esofagus
-          Lambung: Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum 
-          Usus halus
-          Usus Besar (Kolon)
-          Rektum



2.2.1        Mulut
Pencernaan di mulut pertama kali di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi dan di teruskan ke pencernaan mekanis. Di dalm mulut terdapat saliva.

Pengertian saliva
Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral.
Komposisi saliva:
Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah sodium, potassium (sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).
Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.
Selain itu, saliva juga mengandung gas CO2, O2, dan N2. Saliva juga mengandung immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%
Fungsi saliva:
a.       membantu penelanan
b.      buffer (ph 8,4 – 8,5)
c.       suplai nutrien mikroba (70% urea)

Mekanisme sekresi saliva
Di kelenjar saliva, granula ssekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Karakteristik ketiga kelenjar saliva pada sebagai berikut:manusia dapat diringkas
SALIVA : SAPI ± 150 liter/hari
DOMBA ± 10 liter/hari
Enzim : Pregastric esterase

2.2.2        Lambung Ruminansia
a.      Rumen
Rumen merupakan bagian saluran pencernaan vital pada ternak ruminansia. Pada rumen terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan fermentatif membutuhkan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan kandungan selulase dan hemiselulase yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrokitik membutuhkan bantuan enzim dalam mencerna pakan. Ternak ruminansia besar seperti sapi potong dan sapi perah dapat memanfaatkan pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat rendah, akan tetapi boros dalam penggunaan energi.

Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang tinggi dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal bagian kiri. Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan rumen terdapat papilla dan papillae. Sedangkan substrat pakan yang dimakan akan mengendap dibagian ventral. Pada retikulum dan rumen terjadi pencernaan secara fermentatif, karena pada bagian tersebut terdapat bermilyaran mikroba.

LETAK: sebelah kiri rongga perut
ANATOMI :
·         Permukaan dilapisi papila (papila lidah) → memperluas 
·         permukaan untuk absorbs
·         Terdiri 4 kantong (saccus)
·         Terbagi menjadi 4 zona

KONDISI : 
·         BK isi rumen : 10 -15%
·         Temperatur : 39-40ºC        
·         pH = 6,7 – 7,0
·         BJ = 1,022 – 1,055
·         Gas: CO2, CH4, N2, O2, H2, H2S
·            mikroba: bakteri, protozoa, jamur
·         Anaerob

FUNGSI     :  
·         Tempat fermentasi oleh mikroba rumen
·         Absorbsi : VFA, ammonia
·         Lokasi mixing
·         Menyimpan bahan makanan→ fermentasi

PEMBAGIAN ZONA DI DALAM RUMEN
PEMBAGIAN MIKROBIOLOGIS:
1)      Zona gas : CO2, CH4, H2, H2S, N2, O2
2)      Zona apung (pad zone) : Ingesta yang mengapung (ingesta baru dan mudah dicerna)
3)      Zona cairan (intermediate zone) : cairan dan absorbsi                           metabolit yang   terlarut dalam cairan (>>mikroba)
4)      Zona endapan (high density zone) : ingesta tidak dapat                       dicerna dan benda-benda asing

b.      Retikulum
Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan menjadi tercampur.
·         Secara fisik tidak terpisahkan dari rumen
·         Terdapat  lipatan-lipatan esofagus  yang meru-pakan lipatan jaringan yg langsung dr esofagus ke omasum
·         Permukaan dalam : papila → sarang laba-laba (honey comb) perut jala
Fungsi:
·         tempat fermentasi
·         membantu proses ruminasi
·         mengatur arus ingesta ke omasum
·         Absorpsi hasil fermentasi
·         tempat berkumpulnya benda-benda asing

c.       Omasum
Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. Ph omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan abomasums terdapat lubang yang disebut omaso abomasal orifice.
·         Letak : sebelah kanan(retikulum) grs media (disebelah rusuk 7-11)
·         Bentuk : ellips
·         Permukaan dalam berbentuk laminae → perut buku (pada lamina terdapat papila untuk absorpsi)
·         Fungsi: grinder, filtering, fermentasi, absorpsi)

d.      Abomasum
Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. Ph pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri. Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.
Letak :
·         dasar perut (kanan bawah)
·         Bentuk : memanjang
·         Bagian dalam terdapat tonjolan : fold → absorpsi
·         Terdiri 3 bagian:
·         kardia  : sekresi mucus
·         Fundika: pepsinogen, renin, HCl, mukus   
·         Pilorika : sekresi mukus
·         Fungsi: - tempat permulaan pencernaan enzimatis (perut sejati) → Pencernaan protein
·         mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum

2.2.3        Usus Halus (Intestinum Tenue)
Fungsi : pencernaan enzimatis dan absorpsi
Kedalam usus halus masuk 4 sekresi:
·         Cairan duodenum: alkalis, fosfor, buffer
·         Cairan empedu: dihasilkan hati, K dan Na (mengemulsikan lemak), mengaktifkan lipase    pankreas, zat warna
·         Cairan pankreas: ion bikarbinat untuk menetralisir asam lambung
·         Cairan usus
Pankreas
Letak : lengkungan duodenum
Mensekresikan enzim:
·         Amilase  : alfa amilase, maltase, sukrase
·         Protease : tripsinogen,  kemotripsinogen,prokarboksi, peptidase
·         Lipase    : lipase, lesitinase, fosfolapase, kolesterol, esterase
·         Nuklease: ribonuklease, deoksi ribonuklease

2.2.4        SEKUM DAN KOLON
Bentuk: tabung berstruktur sederhana,  kondisi = rumen
·         Fungsi: fermentasi oleh mikroba
·         Absorpsi VFA dan air → kolon
·         Konsentrasi VFA: sekum: 7 mM, kolon: 60 mM (rumen = 100 – 150 mM)





2.3.SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA RUMINANSIA
Struktur khusus sistem pencernaan hewan ruminansia:

1.
Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperti rumput.
2.
Geraham belakang (Molar) memiliki bentuk datar dan lebar.
3.
Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
4.
Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum dan Abomasum.


http://3.bp.blogspot.com/-zQ7J-XhqnLQ/TbosKNl4bjI/AAAAAAAAAkI/eWerxdNtybY/s400/sistem+pencernaan+ruminansia.jpg

Gbr. Saluran pencernaan hewan pemamah biak


Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadang-kadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.

Sapi, misalnya, mempunyai susunan gigi sebagai berikut:
3
3
-
-
-
-
-
-
Rahang atas
M
P
C
I
I
C
P
M
Jenis gigi
3
3
-
4
4
-
3
3
Rahang bawah
I = insisivus = gigi seri
C = kaninus = gigi taring
P = premolar = geraham depan
M = molar = geraham belakang

Berdasarkan susunan gigi di atas, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa.

Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus (kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi (mernbesar). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm.

Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan fermentasi.

Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk tonjolan pada saat otot sfinkter berkontraksi.

Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.

Selulase yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak selulosa menjadi asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat dicernakan untuk menjadi sumber protein bagi hewan pemamah biak. Dengan demikian, hewan ini tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada manusia. Asam lemak serta protein inilah yang menjadi bahan baku pembentukkan susu pada sapi. Nah, inilah alasan mengapa hanya dengan memakan rumput, sapi dapat menghasilkan susu yang bermanfaat bagi manusia.

Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti pada sapi untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum. Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali. Kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang akan dicernakan lagi oleh kelinci.

Sekum pada pemakan tumbuh-tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan sekum karnivora. Hal itu disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar dan proses pencernaannya berat, sedangkan pada karnivora volume makanan kecil dan pencernaan  berlangsung dengan cepat.

Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).  Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum akan keluar dari tubuh organisme bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung bahan organik akan diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).

2.4. GANGGUAN DAN KELAINAN SISTEM PENCERNAAN
                                             
Gangguan Sistem Pencernaan
• Apendikitis
Þ
Radang usus buntu.
• Diare
Þ
Feses yang sangat cair akibat peristaltik yang terlalu cepat.
• Kontipasi (Sembelit)
Þ
Kesukaran dalam proses Defekasi (buang air besar)
• Maldigesti
Þ
Terlalu banyak makan atau makan suatu zat yang merangsang lambung.
• Parotitis
Þ
Infeksi pada kelenjar parotis disebut juga Gondong
• Tukak Lambung/Maag
Þ
"Radang" pada dinding lambung, umumnya diakibatkan infeksi Helicobacter pylori
• Xerostomia
Þ
Produksi air liur yang sangat sedikit
Gangguan pada sistem pencernaan makanan dapat disebabkan oleh pola makan yang salah, infeksi bakteri, dan kelainan alat pencernaan. Di antara gangguan-gangguan ini adalah diare, sembelit, tukak lambung, peritonitis, kolik, sampai pada infeksi usus buntu (apendisitis).

2.4.1        Diare
Apabila kim dari perut mengalir ke usus terlalu cepat maka defekasi menjadi lebih sering dengan feses yang mengandung banyak air. Keadaan seperti ini disebut diare. Penyebab diare antara lain ansietas (stres), makanan tertentu, atau organisme perusak yang melukai dinding usus. Diare dalam waktu lama menyebabkan hilangnya air dan garam-garam mineral, sehingga terjadi dehidrasi.

2.4.2        Konstipasi (Sembelit)
Sembelit terjadi jika kim masuk ke usus dengan sangat lambat. Akibatnya, air terlalu banyak diserap usus, maka feses menjadi keras dan kering. Sembelit ini disebabkan karena kurang mengkonsumsi makanan yang berupa tumbuhan berserat dan banyak mengkonsumsi daging.

2.4.3        Tukak Lambung (Ulkus)
Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis tertentu.

Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut: Peritonitis; merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium). Gangguan lain adalah salah cerna akibat makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung. Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis.



BAB III
PENUTUP


3.1. Kesimpulan

Dari semua hasil pembahasan tentang sistem dan proses pencernaan pada ternak ruminansia , maka dapat disimpulkan bahwa saluran pencernaan ruminansia (dalam hal ini kambing), pencernaannya secara sistematis terdiri atas mulut, esophagus, rumen, reticulum, omasum, abomasums, duodenum, yeyenum, ileum, secum, colon, dan anus.

Yang membedakannya dengan sistem pencernaan non-ruminansia adalah pada jumlah lambungnya, non-ruminansia hanya mempunyai 1 lambung, sedangkan ruminansia mempunyai lambung yang terdiri dari 4 bagian yang masing-masing mempunyai fungsi spesifiik masing-masing
           

3.2.Kritik dan Saran

Makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik    dan   saran yang    bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.





DAFTAR PUSTAKA


-          Muhtarudin. 2002. Pengaruh Amoniasi, Hidrolisat Bulu Ayam, Daun Singkong, dan Campuran Lisin-Zn-Minyak Lemuru terhadapo Penggunaan Pakan pada Ruminansia. Disertasi. Program Pascasarjana IPB. Bogor
-          Kosnoto, M. 1999. Sistem Pencernaan Pada Hewan. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga, Surabaya.
-          Pratiwi,dkk. 2007. Biologi untuk SMA kelas XI. Erlangga. Jakarta.
-          Rasyid, G., A. B. Sudarmadji, dan Sriyana. 1996. Pencernaan Hewan Pemamah Biak. Karangploso. Malang.
-          Sumarwan,dkk. 2000. IPA Biologi untuk SMP kelas 2. Erlangga. Jakarta.